Oleh: Diah Paramita Sari


Sebuah proses desain arsitektur tidak pernah lepas dari pengaruh pemberi tugasnya atau biasa disebut sebagai klien. Sebagai bagian dari partisipan sebuah proyek bangunan, peran klien sangat penting dalam membentuk dan menghidupkan ide. Anthony Antoniades dalam bukunya “Poetic of  Architecture", membahas secara kritis dan teoritis mengenai hubungan arsitek dengan klien [1].Meskipun berperan sebagai leading consultant, namun arsitek tidak dapat menghasilkan karya arsitektur sendiri. Karya arsitektur selalu merupakan produk dari sekumpulan orang; pemberi tugas atau klien, arsitek, konsultan dari berbagai disiplin lain, contohnya struktur, mekanikal elektrikal, lansekap, special lighting, dan sebagainya.Meningkatnya kompleksitas dalam perencanaan dan luasnya bidang yang terkait, hal utama yang harus dilakukan seorang arsitek adalah mengetahui posisi beserta tanggung jawabnya sebagai pihak perencana yang melakukan mediasi diantara pihak-pihak terkait.

Dijelaskan dalam buku IAI Pedoman Hubungan Kerja antara Arsitek dengan Pemberi Tugas” , pemberi tugas adalah perorangan, kelompok orang atau suatu badan usaha yang memberikan penugasan / pemberian tugas kepada Arsitek, untuk melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan perencanaan perancangan arsitektur dan atau pengawasan pembangunan / pengelolaan proses pembangunan lingkungan binaan / arsitektur [2]. Beberapa jenis klien mulai dari individual, korporat, hingga pemerintahan, ketiganya memiliki sistem kerja yang berbeda.Pemberi tugas atau klien individual umumnya menunjuk langsung pihak perancang, jenis proyeknya didominasi dengan proyek skala kecil, mulai dari rumah tinggal, kantor, komersial, hingga perumahan. Sedangkan untuk klien berupa korporat dan pemerintah, jenis proyeknya dapat berupa kantor, perumahan, komersial, fasilitas publik, dan fasilitas umum dengan skala menengah ke tinggi. Cara pemberian tugas untuk proyek skala tersebut umumnya melalui tender atau sayembara, baik terbuka maupun tertutup.Tulisan ini akan membahas perbedaan proses perancangan arsitektur mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan sesuai dengan jenis pemberi tugasnya.

Dilihat dari segitenggat waktu, dan bujet pekerjaan, klien individual cenderung memiliki keluwesan yang tinggi dibandingkan jenis klien lainnya. Selama proses perancangan, ketidakpuasan kliendengan hasil rancangan arsitek, dapat berujung pada mundurnya jadwal. Begitu pula dengan jangka waktu pelaksanaan proyek tersebut, memungkinkan untuk mundur dari tenggat waktu yang direncanakan, sehingga tugas supervisi tim arsitek menjadi lebih lama. Meski umumnya seluruh proyek memiliki kontrak kerja, namun dalam hubungan kerja yang cenderung personal, seringkali menimbulkan adanya toleransi antar kedua belah pihak. Pihak perencana memiliki waktu yang lebih fleksibel untuk mendesain, namun tidak jarang pembayaran dari klien juga tidak tepat waktu karena toleransi tersebut.

Di sisi lain untuk klien korporat dan pemerintahan, cenderung memiliki tenggat waktu yang wajib dipatuhi oleh semua pihak yang berkontribusi untuk pembangunan. Kontrak tersebut mengikat dengan penalti atau denda apabila pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai dengan butir-butir kontrak yang tertulis.Perubahan isi kontrak dapat diakomodir dengan amandemen, namun hal tersebut bukanlah proses yang mudah, terutama untuk proyek pemerintahan yang sistem kontraknya lebih mengikat. Memiliki sistem birokrasi dalam badan keanggotaannya, menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk mengatur waktu dengan baik dan berstrategi secara efektif. Pengambilan keputusan yang cenderung rumit, menyebabkan riskannya konsistensi pendapat dan masukan. Bahkan, bukan tidak mungkin banyak oknum yang tidak bersangkutan mengaku terlibat. Bukti tanda tangan atau stempel dari pihak yang bersangkutan sangat dibutuhkan untuk mengetahui keabsahan data maupun masukan yang didistribusi.

Perbandingan antara ketiga klien tersebut secara praktis dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Aspek

Individual

Korporat

Pemerintahan

Jenis proyek
Skala kecil-menengah
Skala menengah-tinggi
Skala menengah-tinggi
Penugasan proyek
Penunjukkan langsung
Tender, sayembara
Tender, sayembara
Jadwal dan batas waktu penugasan
Fleksibel
Ketat
Sangat Ketat
Pengambilan keputusan
Paling mudah (langsung ke klien)
Cukup mudah (langsung ke owner representation, perlu antisipasi perubahan PIC )
Cenderung sulit (birokrasi yang cukup rumit, beberapa kepentingan yang bukan tidak mungkin bersinggungan)
Dana Proyek
Cukup fleksibel, selama klien setuju
Cenderung ketat
Sangat ketat, mengikuti nilai tender yang berlaku
Sistem kontrak (sistem pembayaran, lingkup pekerjaan arsitek)
Memiliki potensi untuk tidak tepat pada kontrak (toleransi)
Tertera jelas di kontrak, perubahan kontrak dapat diatur dalam amandemen
Tertera jelas di kontrak, perubahan kontrak dapat diatur dalam amandemen namun prosesnya lebih sulit

Tabel 1. Tabel Analisis Perbedaan Proses Desain Arsitektur Berdasarkan Jenis Pemberi Tugasnya

Sumber : Penulis

Secara singkat dapat diurutkan mengenai hubungan antara arsitek dengan pemberi tugasnya, dari aspek ketepatan jadwal, pembayaran, dan lingkup pekerjaan adalah klien individual, kemudian klien korporat atau badan usaha, dan terakhir klien pemerintah dengan ketepatan sistem paling tinggi. Di sisi lain apabila diurutkan berdasarkan keluwesan desain, pendanaan, dan lingkup pekerjaan arsitek, adalah klien pemerintah, klien korporat, kemudian klien individual.

Sebagai penutup, arsitektur selalu berusaha mencari solusi dari permasalahan dan kebutuhan manusia, tiap jenis pemberi tugas memiliki tantangan dan keunikan tersendiri yang dihadapi oleh arsitek selama proses perancangan dan konstruksi berlangsung. Harus diakui bahwa arsitek memiliki kekuatan terbatas. Arsitek bukan subyek yang memilih lokasi pembangunan, bukan pihak pembuat undang-undang, bahkan dapat dikatakan bahwa arsitek berkarya melalui dana pihak lain, yaitu klien. Oleh sebab itu,arsitek harus memberi pertanggungjawaban sebagai penyedia jasa terhadap klien, disamping tetap harus berkoordinasi dengan tepat dalam pembangunan suatu lingkungan binaan sebagai bagian dari sebuah tim. Gambaran mengenai proses desain arsitektur berdasarkan jenis pemberi tugasnya diharapkan dapat menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi para mahasiswa arsitektur maupun para arsitek muda kedepannya, supaya dapat memposisikandiri dan beradaptasi dengan baik sebagai seorang arsitek maupun tim di dunia praktik profesional. 




Catatan.

1. Antoniades, Anthony C. (1992) “Poetics of Architecture”, New York: Van Nostrand Reinhold

2. IKATAN ARSITEK INDONESIA (1991) “Pedoman Hubungan Kerja antara Arsitek dengan Pemberi Tugas”, Jakarta

Source Image: Designed by jannoon028 / Freepik http://www.freepik.com